Selasa, 25 Juni 2013

Being Opportunist is Something!

Yeah, it's very true.
Belakangan ini saya jadi salah satu penganut prinsip oportunis.
Menjadi oportunis memiliki dua sisi. Bagai bilah mata pisau.
Opportunities toward us | source
Terkadang kesempatan yang tiba-tiba muncul di depan kita membuat kita merasa "naik kelas". Yang lagi bokek lalu dapet proyek baru, maka dia akan sangat bahagia karena dapat sokongan finansial dari kesempatan itu. Yang lagi nganggur lalu dapet tawaran pekerjaan, maka dia akan merasa tertolong dengan tawaran itu karena membuatnya keluar dari titel pengangguran.
Jadi kaum oportunis seperti ini sangat mengharapkan setiap kesempatan baik datang kepada mereka dengan sendirinya.

But, on the other hand being opportunist is such a bad idea!
Kesempatan yang sudah di depan mata memang sangat menggiurkan untuk diambil. Tak hanya satu dua saja, tapi kalau bisa semuanya. Saya ulangi... Semuanya!
Ambil semua kesempatan yang kita punya akan memiliki efek yang buruk di masa depan.
Contohnya saya sendiri yang sekarang mengambil banyak tawaran pekerjaan membuat peta. Semua yang ditawarkan saya ambil tanpa mempertimbangkan kompetensi dan juga rentang waktu masing-masing pekerjaan. Akhirnya, pada waktu deadline seperti saat ini sayanya yang keteteran.
Ya, benarlah bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan saya merasakannya sekarang.

Saya yang selalu senang mengutak-atik peta, pada saat-saat deadline seperti ini, jadi berpikiran bahwa peta itu menjemukan.

Dan ini yang tak kalah penting.
Kerugian lain dari seorang oportunis adalah rentannya kehilangan kesempatan lain yang lebih besar.
Contohnya adalah yang sedang saya alami sekarang. Saya beberapa kali kehilangan kesempatan untuk mengikuti beasiswa S2 karena terlalu fokus kepada pekerjaan freelance saya. Saya kehilangan fokus pada sesuatu yang lebih berharga yaitu studi lanjut. Planning masa depan yang saya buat jadi kacau. Dan entah kenapa, saya jadi kurang yakin untuk mewujudkan visi jangka menengah saya, yaitu studi lanjut.

Meski begitu, saya tetap percaya akan pertolongan dari Allah.
Saya yakin apa yang Allah rencanakan lebih indah dari apa yang bisa saya bayangkan.

Tak ada gunanya menyesali apa yang sudah berlalu.

Mungkin quote berikut sangat tepat untuk kondisi saya saat ini.
”You cannot control what happens to you, but you can control your attitude toward what happens to you.”- Brian Tracy
Share

Kamis, 13 Juni 2013

Update SP1 for ArcGIS 10.1

Berikut link untuk download:
http://support.esri.com/en/downloads/patches-servicepacks/view/productid/189/metaid/1913

Enjoy it, pals! =D Share

Jumat, 31 Mei 2013

Makna Motto Hidup "Mengalir Seperti Air"

Air Mengalir (copas from here)
Kawan, sering dengar kan ada orang yang berkata seperti ini?

"Hidup itu seperti air yang mengalir. Santai dan nikmati saja setiap waktu yang berlalu."

"Saya tak ingin menggebu-gebu mengejar dunia. Semuanya sudah ada yang mengatur. Jadi biarlah hidup ini mengalir seperti air."

Apa hal yang pertama kali kawan pikirkan tentang cara pandang orang seperti itu?
Yup, mereka menganggap hidup bukanlah sebagai beban.
Hidup mereka mengikuti mainstream.
Dsb.
Yang jelas mereka tidak berambisi untuk sesuatu yang bersifat duniawi.
Terkesan positif, bukan?

Ada yang aneh?
Lalu, apa salahnya punya motto motto hidup seperti air?

Saya bilang: ADA!
Cara pandang hidup seperti air seakan-akan adalah sesuatu yang baik. Padahal kalau kita telisik lebih jauh, maknanya sungguh tak seperti itu.

Sekarang saya tanya...
Bagaimana kondisi air yang mengalir?
Kondisinya bagus. Air yang mengalir menunjukkan bahwa tidak ada penghambat.
Oke, so far masih terkesan baik.
Lalu, ke mana arah air yang mengalir?
Jawabnya pasti ke bawah.

Demikian pula orang yang mengusung motto itu.
Mereka terlihat seperti tak memiliki masalah. Santai, tenang, dan bijaksana.
Tapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka tidak punya prinsip diyakini dan diterapkan dalam hidupnya. Mereka memilih untuk menjalani setiap perkara apa adanya. Tanpa ambisi. Tanpa ada keinginan untuk menjadi lebih baik.
They prefer something ordinary. So linear. So flat.
What a life!

Hati-hati dengan motto yang kita pakai dalam hidup, kawan.
Motto itu berhubungan erat dengan niat. Berhubungan dengan apa yang kita cita-citakan. Berhubungan dengan mindset dan cara pandang kita terhadap apapun dalam hidup.
Berbicara mengenai mindset, motto merupakan salah satu metode NLP dalam menanamkan mindset pada otak.

NLP adalah kependekan dari Neuro Linguistik Program.
Cara kerja NLP pada otak sama seperti cara kerja Installer software pada komputer.
Katakanlah software tersebut adalah winamp. Awalnya, software diinstal menggunakan installer. Kemudian setelah berhasil terinstal, software winamp tersebut bisa memutar berbagai jenis musik yang kita punya tanpa. Kita bisa memutar musik menggunakan software winamp yang sudah terinstal, tanpa membutuhkan installer winamp lagi.

Di otak kita, installer software itu salah satunya berupa motto.
Beberapa penggal kata itu kita yakini dan kemudian kita terapkan dalam kehidupan.
Setelah itu semua attitude kita terhadap setiap perkara akan ada penyesuaian terhadap motto secara otomatis.

Peran motto itu penting, kawan.
So, pilihlah motto sejalan dengan cita-cita.
Ambil yang positif dan tinggalkan yang negatif.

Bay de way, motto saya saat ini: Hidup mulia atau mati syahid!
Semoga saya bisa menerapkan seutuhnya dalam hidup. :)
Aamiin. Share

Kamis, 30 Mei 2013

Apa itu Aqidah?

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
(Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang)

Kawan, apa yang ada dalam benak kawan ketika membaca judul postingan kali ini?
Adakah pikiran pertama yang terlintas dalam benak kawan-kawan seperti ini?

Aqidah... Hemm itu pasti tentang akhlak.

Aqidah... EGePe ahh! Masih banyak urusan guwe yang harus dipikirin daripada mikir aqidah.

Aqidah itu... apa ya?

Saya yakin saat ini masih banyak orang yang di KTP-nya beragama Islam tapi tidak tahu apa itu aqidah. Terutama yang di keluarganya tidak ada yang pernah mondhok (tinggal di pondok). Saya bisa yakin karena pengalaman saya pribadi. Keluarga saya, alhamdulillah, banyak yang mondhok. Tapi saya baru paham apa itu aqidah setelah usia saya beranjak 22 tahun. Dan lucunya pemahaman tentang aqidah yang saya dapat tidak berasal dari anggota keluarga yang mondhok tapi dari kegiatan kajian (semacam les/kursus agama) yang diadakan IKADI Surabaya. Namanya KAIFA (Kajian Intensif Fiqih dan Aqidah).

Nah, saya saja yang punya anggota keluarga orang pondokan baru tahu apa itu aqidah setelah usia menginjak 20an apalagi yang dari keluarga non-pondok. Maka saya pikir perlu menuliskannya di sini. Selain untuk memberikan informasi untuk orang lain hal ini bermanfaat untuk diri saya sendiri sebagai pangeling-eling. Kata orang semakin sering menulis, maka kita akan semakin hapal apa yang kita tulis itu. Ya semoga yang saya niatkan itu bisa tercapai semua. Aamiin.

Baiklah, apa yang saya tuliskan di sini kebanyakan saya ambil dari buku diktat KAIFA. Namun saya akan mencoba untuk menuliskannya dalam gaya bahasa saya sendiri agar tidak terkesan terlalu kaku. Biasalah... Kalau pembahasan terlalu 'ke kanan' seringkali pembaca tidak minat untuk membaca banyak-banyak. Khawatir bukan dapat ilmu baru malah tambah mumet. hehe

Oke, monggo langsung saja disantap ilmu barunya.

DEFINISISecara etimologis (bahasa)Aqidah berasal dari kata al-'aqdu yang berarti mengikat/ikatan atau transaksi.
Ikatan seperti halnya makna ikatan pada frase "aqad nikah" yang berarti ikatan pernikahan.
Transaksi seperti halnya makna transaksi pada frase "aqad jual beli" yang berarti transaksi jual beli.
Secara terminologis (istilah)Umum:aqidah adalah percaya dengan yakin (iman), tanpa keraguan sedikitpun kepada sesuatu, baik benar (haq) maupun salah (bathil).
Khusus:aqidah islamiyah adalah iman kepada Allah Ta'ala, dengan meyakini:
  • rububiyah-Nya,
  • uluhiyah-Nya,
  • asma' dan sifat-Nya,
  • iman kepada malaikat-malaikat-Nya,
  • kitab-kitab-Nya, 
  • rasul-rasul-Nya, 
  • hari akhir, dan
  • takdir yang baik dan buruk.
URGENSI
1. Aqidah Islam adalah ruh dan sumber motivasi bagi amal, ibadah dan bahkan kehidupan (QS. Al An'am 6:122, Fathir 35:22). Oleh karena itu setiap muslim semestinya adalah orang yang paling bersemangat dalam menjalani hidup, apapun bentuknya, dalam berkaryam beramal, beribadah dan berjuang. Sementara itu orang yang lemah atau hilang semangat bahkan putus asa di dalam menghadapi ujian kehidupan, pastilah orang yang lemah imannya dan bermasalah aqidahnya.
2. Aqidah islam yang benar, murni dan kuat merupakan perisai terbaik dan benteng pertahanan terkuat terhadap:
  • arus syubhat (pemikiran-pemikiran menyimpang) seputar aqidah islam
  • arus syahwat (godaan hawa nafsu) dalam kehidupan jahiliyah modern saat ini
  • bermacam bentuk ujian dan cobaan yang memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tabiat kehidupan sesuai ketentuan sunnatullah (QS. Al Mulk 67:2)
Dua faktor awal (syubhat dan syahwat) adalah dua senjata andalan utama syetan dalam permusuhan besarnya menghadapi hamba-hamba Allah yang beriman.
3. Lebih dari sekadar perisai dan benteng pertahanan, aqidah Islam sekaligus menjadi senjata terampuh dalam melawan serangan ghazwul fikr dengan berbagai syubhat aqidah, ideologi dan pemikiran yang selalu membingungkan, merancukan dan bahkan menyesatkan.
Nah, definisi dan urgensi aqidah di atas sepertinya sudah cukup untuk bekal memahami mengapa aqidah itu penting dalam hidup sebagai muslim. Kalau kita cermati lagi, definisi khusus di atas bisa dibuat lebih simple. Saya pribadi memandang aqidah sebagai nilai-nilai dalam ajaran Islam yang kita yakini.
Dari pengertian tersebut, sebenarnya aqidah bukan hal asing bagi kita. Hanya saja seringkali kita tidak paham akan istilah-istilah yang ke-arab-arab-an.
Pun memahami definisi aqidah juga bukan termasuk dalam kewajiban dalam beragama. Namun apabila mampu memahaminya akan jadi lebih baik. Dalam sudut pandang saya, bila seseorang tahu dan paham hakekat dari suatu ibadah (kaitannya tentang aqidah dan fiqh) maka ketika orang itu melaksanakannya rasanya sungguh berbeda. Rasanya seperti tanpa beban, karena pemahaman bahwa yang dikerjakan adalah sesuatu yang benar bisa menguatkan nilai ibadah seseorang.
Contohnya saja ketika saya kecil dulu, saya tidak paham hakekat mengerjakan ibadah puasa ramadan. Saya waktu itu hanya ikut-ikutan puasa karena orang serumah tidak makan dan tidak minum. Saya merasa seharian hanya dapat lapar dan haus saja. Tapi sekarang setelah saya paham bahwa esensi dari puasa ramadan adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkannya yaitu unsur syahwat (makan, minum, senggama) dan juga emosi maka saya bisa lebih hati-hati dalam menjaga diri.

Apalagi bila sudah ada pemahaman kalau di pada saat puasa kita mengkondisikan diri kita seperti kaum fakir, miskin, dan dhuafa. Saya yakin puasanya akan lebih luar biasa. Intensitas ibadahnya akan berlipat. Karena dengan memahami posisi kaum yang tidak mampu itu, rasa syukur akan muncul dengan sendirinya. Semangat beribadah akan bertambah. Hemm... mantap dah!

Dan saya pikir, hal itu berlaku untuk semua ibadah di agama ini.

Wallahu a'lam bish showab.
(Allah lebih tahu hal yang benar) Share

Minggu, 26 Mei 2013

Hidup seperti Makan di warung

Ahamdulillah. Saya termasuk dari beberapa orang yang beruntung mengikuti ISPS (indosat school of public speaking). Dalam angkatan pertama ini banyak sekali yang saya dapatkan. Tentang bagaimana cara menjadi pembicara di depan umum yang baik. Teknik presentasi, penampilan, behave, tutur kata, dan bahkan intonasi pun dipelajari.
Materinya beragam mulai dari teknik dasar presentasi, powerful presentation, psychology for public speaking, NLP (neuro linguistik program) dan masih banyak lagi yang lainnya. Pematerinya pun sangat berkompeten. Mereka semua adalah pembicara hebat yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun di bidangnya. Dari sekian banyak pembicara ada satu hal yang saya selalu catat. Yakni kata-kata mutiara yang mereka lontarkan ketika mengisi materi.
Saya adalah orang yang mudah termotivasi oleh kalam-kalam mutiara. Saya berniat untuk membagi kalam-kalam yang pernah saya dapat kepada para fakir motivasi. Paling tidak, apa yang saya sampaikan bisa menjadi trigger untuk berubah menjadi insan yang lebih baik. Oleh karena itu di setiap kesempatan bertemu orang hebat saya tak pernah lupa mencatat kalam-kalam super yang keluar dari lidah mereka. Bukankah lidah orang sukses biasanya jarang bohong? :)
Dalam kesempatan ini saya ingin membagikan satu analogi yang cukup bagus dari Mas Fahmi, pengisi materi NLP. Sila disimak.
Hidup seperti makan di warung.
Ada yang makan dulu lalu bayar.
Ada yang bayar dulu lalu makan.
Mau yang manapun boleh.
Tapi satu hal yang pasti: Kita harus BAYAR!
Makna:
Makanan sama seperti kenikmatan; cita-cita; sesuatu yang ingin kita raih; kesuksesan.
Bayar sama seperti konsekuensi; sesuatu yang harus kita tempuh untuk meraih cita-cita.
Manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang bisa diambil.
Mau makan dulu bisa. Mau bayar dulu juga bisa.

Mau santai-santai di masa muda bisa. Konsekuensinya tua hidup apa adanya.
Mau berjuang keras di masa muda juga bisa. Konsekuensinya tua hidup sejahtera.

Pilihan ada di tangan kita.
Apapun yang kita pilih mengandung konsekuensi yang harus kita bayar.

Semoga bermanfaat. Share

Jumat, 24 Mei 2013

[Ice Breaking] 3 Hewan yang Merepresentasikan Diri Kita

Pada pertemuan ISPS (Indosat School of Public Speaking) bulan ini saya mendapatkan satu jenis ice breaking yang menarik. Ice breaking ini tergolong simple tapi cukup berkesan. Khususnya untuk saya pribadi. Oleh karena itu layak diabadikan dengan tulisan di sini.
Well, straight to the point aja.
Here is our new ice breaking game!

Deskripsi singkat
Games ini tidak mensyaratkan jumlah korban (peserta games yang berdiri di depan karena alasan dihukum) secara khusus. Satu, dua, empat, tujuh, atau berapapun jumlah orangnya games ini tetap bisa dimainkan. Tapi semakin banyak maka akan semakin menarik karena hasilnya bisa dibandingkan satu sama lain. Bahkan tak hanya korban saja, peserta duduk pun bisa ikut games ini.

Prosedur
1. Minta peserta menyediakan selembar kertas dan alat tulis. Jika ada korban yang berada di depan maka akan lebih baik apabila tersedia papan tulis atau whiteboard untuk menuliskan jawaban mereka.
2. Minta peserta membayangkan 3 hewan yang paling disukai. Apabila ada yang tidak suka hewan, maka paksalah hingga mereka membayangkan hewan mereka. (kuasa ada di tangan pemateri... hehe)
3. Tuliskan nama hewan berdasarkan urutan favorit. Nomor 1 yang paling disuka, dst.
4. Jelaskan esensi dari penyebutan 3 nama hewan ini. Minta peserta merenungkan dan merefleksi diri mereka sendiri.

Esensi
3 nama hewan yang disebutkan merupakan hewan yang sifatnya merepresentasikan bagaimana karakter diri kita.
Hewan pertama merepresentasikan karakter yang kita harapkan.
Hewan kedua merepresentasikan karakter kita sekarang.
Hewan ketiga merepresentasikan seperti apa diri kita di mata orang-orang sekitar kita (teman-teman, kolega, keluarga, dll)

In my case, 3 hewan itu adalah elang, singa, dan ikan koi.
Elang berarti kebebasan, kuasa.
Singa berarti ambisius, watak yang keras.
Ikan koi berarti kedamaian, remeh temeh, tidak spesial.

Lumayan cocok dengan diri saya. Hemm... How's yours? Share

Jumat, 06 Juli 2012

Esensi Lain dari Bekerja

Alhamdulillah, hari ini masih disibukkan dengan pekerjaan.
Masih seputar mapping.
Sebuah kesibukan positif.
Menurutku, sibuk yang positif harus disyukuri karena bila waktu ini tak kita isi dengan kesibukan yang baik maka yang terjadi adalah sebaliknya. Kita akan disibukkan dengan urusan-urusan negatif.

Oke, posting kali ini tak bisa panjang karena malam sudah begitu larut dan kebetulan aku baru masuk kamar kos. Baru lembur dari LPPM ITS membuat peta. Rasanya letih + kenyang. =D
So langsung saja ke inti tulisan ini.

Yang mau aku sampaikan dalam tulisan kali ini adalah sebuah kalimat bijak dari Mas Tommy, kenalan baru yang juga rekan kerja di LPPM.
Saat mengerjakan laporan tadi pagi kami sempat sharing tentang bagaimana menjalani hidup sebagai mahasiswa yang mandiri dan harus bisa lepas dari ketergantungan kepada orang tua.
Lalu dari sharing itu aku dapati Mas Tom menyebutkan kalimat yang tak biasa didengar telinga.
Kalimatnya kurang lebih begini:
Bekerja sebenarnya adalah kegiatan untuk mengisi waktu menunggu sebelum waktu shalat tiba. (Mas Tommy)

Awalnya aku pikir kalimat itu biasa saja.
Tapi setelah cukup lama merenung, ternyata maknanya lumayan dalam.
Semoga kawan-kawan juga bisa memahaminya juga.

Share

Kamis, 05 Juli 2012

Persiapan Menyambut Ramadhan

Sekarang sudah memasuki nisfu sya'ban (pertengahan bulan sya'ban), itu artinya tak lama lagi kita akan memasuki bulan ramadhan.
Tinggal menghitung hari.
Inshallah dua minggu lagi kita akan memasuki bulan yang penuh berkah.
Bulan yang suci.
Bulan di mana umat muslim berlomba-lomba mencari kebaikan sebanyak-banyaknya.
Bulan yang senantiasa kita nanti-nantikan sejak sebelas bulan yang lalu.
Semoga kita termasuk umat yang turut merindukan bulan ramadhan. Amin.

Dengan semakin mendekatnya ramadhan, apa yang perlu kita persiapkan?
Dari hasil mentoring perdana dengan Mas Adri, beliau menuturkan bahwa dibutuhkan 5 bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan puasa agar ibadah semakin powerfull.
5 hal tersebut adalah:
  1. fisik
  2. ruhani
  3. ilmu
  4. infak
  5. missing link
Persiapan fisik dilakukan dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap fit selama bulan ramadhan. Hal-hal yang perlu dilakukan diantaranya olahraga rutin setiap hari. Tidak perlu berat, stretching ringan sudah cukup.

Persiapan ruhani meliputi pembiasaan-pembiasaan yang dapat nelatih kita agar ibadah yang kita lakukan selama ramadhan bisa istiqomah. Diantaranya adalah dengan meningkatkan intensitas membaca Al-Quran selama bulan Sya'ban agar semangat yang kita pasang ketika ramadhan tidak menjadi semangat fajar (semangat ibadah hanya pada 7 hari pertama).

Ilmu atau wawasan tentang bulan ramadhan serta seluk beluknya penting untuk kita persiapkan guna menghindarkan kita dari kesia-siaan selama bulan ramadhan. Karena bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah, maka sudah seharusnya kita memanfaatkan momen ini untuk memetik faedah dan wawasan keagamaan sebanyak-banyaknya.

Mempersiapkan infak tidak melulu tentang seberapa jumlah uang (harta) yang perlu kita siapkan untuk membantu sesama. Tetapi lebih kepada bagaimana menggunakan harta yang dimiliki untuk menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya. Misalnya dengan uang beberapa ratus rupiah, kita tak perlu melu untuk menginfakkannya. Dengan membelikan air mineral dan membagikannya pada PPT (Para Pencari Takjil) di masjid-masjid, kita sudah mendapatkan banyak pahala, Inshallah.
Ingat sabda Rasulullah SAW,
“Barangsiapa memberi makan berbuka orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa dan pahala orang yang berpuasa itu tidak berkurang sedikit pun.” (HR Tirmidzi)

Ada satu lagi hal lagi yang perlu dipersiapkan oleh umat muslim menjelang datangnya bulan ramadhan. Namun sayang sekali saya lupa, karena pada saat Mas Adri sedang memberikan taujih, saya agak mengantuk. Jadi kurang konsentrasi. :P
Inshallah nanti kalo ingat akan segera saya tambahkan.



Share

Minggu, 01 Juli 2012

Nasehat yang Menguatkan

Hari ini aku mendapatkan dua nasehat dengan tema yang sama. Sama-sama mengingatkan untuk menjaga hati. Nasehat pertama aku dapatkan dari sms salah seorang teman yang juga seorang mentor.
Berikut adalah isi sms-nya dengan sedikit penyesuaian:
Bila dirimu sekarang sedang menunggu seseorang untuk menjalani kehidupan menuju ridha-Nya, berSABARlah dengan keISTIQOMAHan. Demi Allah dia tidak datang karena kecantikan, ketampanan, kepintaran, atau kekayaan. akan tetapi Allah yang menggerakkan HATInya.

Jangan tergesa untuk mengekspresikan cinta kepada dia sebelum Allah mengizinkan. Belum tentu yang kau cintai adalah yang terbaik untukmu. Siapakah yang lebih mengetahui selain Allah??

Simpanlah segala bentuk ungkapan cinta dan derap hati rapat-rapat. Allah kan menjawab dengan lebih indah pada saat yang tepat.
Sedangkan nasehat yang kedua aku dapatkan dari tulisan Ustad Felix Siauw di Google+. Berikut adalah tulisan beliau:
1. datangilah ayahnya bukan putrinya | bila benar engkau lelaki, jangan berani maksiat lalu lari #UdahPutusinAja
2. jangan inginkan hubungan tapi enggan ikatan  | bila benar engkau lelaki, ucap sayang itu setelah nikahi
3. meminang wanita dan engkau masih harus yakinkan keluargamu? itu dusta | bila benar engkau lelaki, siapkan baru katakan
4. jangan mengumbar kata-kata bercabang haram sebelum waktunya | bila benar engkau lelaki, kata-katamu adalah nyawamu
5. wanita itu lemah hatinya terhadap manis kata | bila benar engkau lelaki, ringankan kata adalah perkara utama
6. katakan sayang lakukan hal terlarang, ucap cinta yg maksiat dipinta | bila benar engkau lelaki, harusnya engkau malu
7. katamu kau ingin kebaikan untuknya, yang kau lakukan mengambil masa depannya | dusta, itulah satu-satunya yang kau ajarkan
8. kau katakan kau serius, bagiku itu hanya tipudaya | serius itu menikahi, dan tiada keseriusan selain itu
9. memulai pinangan yang belum kau siapkan untuk akhiri adalah bohong | ibarat tak miliki uang namun mau memborong
10. katamu pacaran adalah penjajakan sebelum menikah | yang ada engkau mencoba-coba karena takutkan nikah
11. masa depan Muslimah yang kau jadikan mainan? | bila yang taat sejak awal saja mungkinkan sulit, apalagi yang dari awal maksiat?
12. tak perlu risau ambil keputusan, banyak Muslimah shalihah | dunia takkan pernah kehabisan mereka, yakinlah #UdahPutusinAja
13. "dia nggak mau aku putusin" | sejak kapan taat perlu izin manusia? sudahi maksiat sudah Allah perkenankan, itu cukup #UdahPutusinAja
14. "semenjak bersamanya aku rajin shalat, itu kan positif?" | #UdahPutusinAja dan berlatihlah bahwa shalat dan taatmu karena Allah semata
15. "aku pacaran positif kok" | bila ada pacaran yang positif, tentu ada pula neraka positif #UdahPutusinAja
16. "cuma pegangan tangan kok" | begitulah mengawali zina, semudah "cuma pegangan tangan" #UdahPutusinAja
17. "pacaran itu tergantung orangnya" | semua wanita yang hilang pusakanya, awalnya berkata begitu #UdahPutusinAja
18. "jangan suudzann, pacaran belum tentu begitu" | bukan berprasangka, tapi melihat yg buruk, mungkin yang tak terlihat lebih parah?
19. "mas, sy siap nikah, TAPI blm cukup duit, ortu blm setuju, kuliah blm lulus, blm kerja blm ada yg mau, blm yakin?" | *terdiam sy -_-
20. bila memang belum siap, #UdahPutusinAja | itulah langkah ksatria yang bisa kau ambil | bila engkau memang lelaki
Dengan datangnya nasehat-nasehat ini kepadaku, aku merasa semakin yakin bahwa prinsipku sejak SMA dulu (pacaran setelah menikah) memang sudah benar. Aku sudah berjalan di jalan lurus-Nya. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah bertahan dari segala godaan yang ada di lingkungan sekitarku.
Bismillah...
Semoga Allah tetap menguatkan.
Share

Jumat, 29 Juni 2012

Perbandingan M dan T

Mendekati bulan Juli aku semakin disibukkan dengan kegiatan drafting peta.

Bukan untuk tugas akhirku melainkan untuk orderan tugas akhir dari kenalan lain jurusan.
Oke, karena jumlah semesternya nambah 1 dari rencana awal konsekuensi pun jadi bermunculan.
Biaya semester sembilan otomatis harus ditanggung sendiri.
Ini artinya mulai sekarang aku harus mencari sesuap nasi untuk anak istri di rumah. Eh salah... Maksudnya aku harus mencari sumber penghasilan baru.
Targetnya sederhana: cukup untuk membayar SPP dan kebutuhan bulanan (mulai semester baru).
Maka sudah aku putuskan setiap kali ada tawaran job bikin peta tugas akhir atau proyek, aku usahakan untuk menjawab YES!
Jadilah aku yes-man sekarang. :P

Orderan kecil-kecilan pun aku samber.
Dari drafting peta untuk tugas akhir alhamdulillah dapat beberapa ratus M.
Sumber: google gambar
Jumlah yang relatif kecil sebenarnya bila dibandingkan dengan drafting peta untuk proyek pada umumnya.
Jika dibandingkan dengan proyek yang pernah aku kerjakan dulu nilainya bisa mencapai beberapa T.
Tapi untungnya perbandingan nilai M dan T dari yang sangat mencolok itu tak menyurutkan langkahku untuk memenuhi target.
Dipandang dari positive side-nya, dengan mengerjakan drafting peta tugas akhir sebenarnya aku mendapatkan pengalaman baru dalam menyelesaikan kasus-kasus pemetaan. Selain itu aku juga bisa menambah acquintance. Dengan kata lain networking tambah luas. :D
Dan masih ada nilai plusnya, yaitu nambah tabungan amal karena membantu orang yang membutuhkan pertolongan adalah perbuatan baik yang disenangi Allah.
Orang yang sedang mengerjakan tugas akhir sudah pasti menghadapi momen-momen yang penuh dengan kegalauan (pinjam bahasanya Pak Mario Teguh).
Dan orang galau adalah orang yang sangat perlu dibantu oleh orang yang tidak galau.
Karena aku sudah tidak ada lagi beban tugas akhir maka akulah orang yang tidak galau itu.
Maka saat inilah aku merasa menjadi hero mereka!
(Bangga di saat yang salah :P)


Tapi bagaimana pun senang rasanya bisa bermanfaat buat orang lain.
Jadi ingat kata-kata bijak yang marak beredar di pasaran sekarang:

"Jangan minta kemudahan dulu baru kemudian membantu orang lain.
Tapi bantulah orang lain, maka kamu akan dimudahkan." (Anonim)

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Konklusi:
Tulisan ini hanya berisi curhatan tentang nominal M dan T yang sebenarnya tak begitu penting dibahas. Penggunaan istilah M dan T pun cuma eksagerasi agar timbul kesan dramatis.
Makanya pembaca disarankan lebih baik tidur saja daripada membaca ini!
Selamat tidur.
Semoga mimpi indah. ;)

#SalamAbuAbu Share

Rabu, 27 Juni 2012

Bangkit!

Beberapa hari terakhir kami disibukkan dengan kegiatan mencari-cari informasi tentang angkringan.
Semua tentang tempat belanja barang pecah belah cangkir dan ingke kami cari-cari.
Pikulan juga.
Ya searching di internet, ya survey langsung ke outlet barang unik.
Sampe survey ke Mirota di Jalan Sulawesi kami jabanin juga.
Semuanya demi cita-cita bersama kami: membuka usaha angkringan sebelum ramadhan tiba.

Alhamdulillah semangat menjadi pengusaha masih mengalir deras dalam aliran darah, dan sirkulasi darah itu berlanjut ke otak sehingga secara tak sadar telah menstimulus tubuh untuk berusaha lebih dari sebelumnya.
Semoga tetap bisa istiqomah.
Amin.

Kemarin: Yaah... Gagal.  Alhamdulillah... Belajar.
Sekarang: Yeaah! Bangkit!

Bismillah. Share

Metamorfosis

Sebulan sudah terlewat. Terlewati begitu saja. Gamang.
Sebulan lalu aku mendapati sebuah keputusan yang mengubah diriku. Keputusan yang bernada kegagalan namun sebenarnya banyak hikmah.
Terlalu pahit untuk dirasakan namun sangat manis bila mampu menyadari hikmah yang tersembunyi. Dan selama sebulan ini aku telah berhasil mengubah rasa pahit itu menjadi manis, Inshallah.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari semua ini. Ingin sekali aku tuliskan semuanya di sini, ingin kubagi pengalaman ini kepada dunia. Tapi mungkin tidak sekarang dan tidak dengan posting ini karena akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menuliskannya daripada menyadari hikmahnya.
Satu hal yang pasti, kegagalan ini bukan semata-mata hukuman yang diberikan Allah atas kelalaianku. Lebih mulia daripada itu, kegagalan ini adalah untuk membentuk (reshaping) diriku yang sesungguhnya. 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Inshallah rencana Allah untukku adalah yang terbaik. Aku tak akan menggugat apapun yang digariskan-Nya. Aku percaya Allah ingin mengubah cara pandangku terhadap dunia dengan cara yang paling elegan.
Keep moving forward!
Bismillah.




Share

Minggu, 20 Mei 2012

Seharusnya Cinta

Cinta itu seharusnya menyejukkan
Tak seharusnya cinta menyakitkan
Tak seharusnya cinta menyayat hati
Tak seharusnya cinta memaksa diriku..
Masuk ke dalam kubang derita

Cinta itu seharusnya milik berdua
Tak seharusnya cinta itu berego
Tak seharusnya cinta itu dirampas satu
Tak seharusnya pula cinta dibagikan rata..
Pada tulang rusuk yang berbeda

Oh cinta...
Sampai kapan dirimu bertahan
Apakah kini satu hati tak cukup mengobati...
Dahaga rindu bagi pecinta sejati?

Cinta cinta cinta...
Cintaku kini redup berpendar
Cintaku nanti kuharapkan berpijar
Semoga saja...


Alhuda
20 Mei 2012


Share

Gadis Berjilbab

Hatiku tergetar melihatnya
Sosok yang anggun itu
Bola matanya bundar bersinar
Pandangannya penuh oleh kesyukuran
Oh batinku teduh seketika itu

Rona mukanya bercerita
Usianya sudah matang
Tanda bahwa ia siap membangun bahtera
Hanya perlu menanti sang nahkoda menjemputnya

Berdiri ku disampingnya
Tapi kini..
Memandangnya pun aku tak kuasa
Hati ini gerimis
Menahan asa yang tak berkemungkinan
Membendung cita yang tak diniatkan

Seandainya diriku...
Tak punya rasa iba
Tak mau tau deritanya
Dan acuh segala rasa
Mungkin aku sudah membawanya serta



Alhuda
20 Mei 2012
Share

Reportase Tour de Bromo (part 1)

KTP, begitulah kami menyebut diri kami. Entah dari mana kami dapatkan nama itu. Mungkin terilhami langsung dari atas langit. Hehe
Dalam komunitas ini kami memiliki visi dan misi yang mulia.

Visi:
Sebagai wadah bagi biker PWK untuk lebih mencintai Indonesia.

Misi:
  1. Brotherhood (internal + external)
  2. Jelajah Nusantara
  3. Pengabdian masyarakat

Dari sinilah kami membangun jaringan dan menemukan keluarga baru.

KTP (Komunitas Touring Planologi) pada touring kedua memilih Bromo sebagai destinasi. Setelah sebelumnya melibas Coban Rondo dan Kawasan Batu, kawan-kawan tertarik dengan track yang lebih menantang dengan jarak yang lebih jauh. Lalu disepakatilah Gunung Bromo sebagai the next destination dengan pertimbangan banyak member KTP yang belum pernah ke sana.
Persiapan pra-keberangkatan dimulai seminggu sebelumnya. Mulai dari persiapan personal terkait perizinan ortu sampai pengecekan motor masing-masing.

Di sini ada yang lucu..
Ketua KTP justru tak bisa ikut touring karena terkendala izin dari ortunya. Sangat disesalkan!

Masih tentang perizinan ortu.. Ada juga yang dilarang berangkat hanya karena gosip.

"Nah lo?! Gimana ceritanya tuh??"
"Sabar sabar.. Begini ceritanya..."

Jadi ada salah satu member KTP, dia cewek, sebut saja dia Bunga.

"Haha, kayak di berita kriminal aja ya.."

Si Bunga ini menuturkan kalo ibunya gak jadi mengizinkan (sebelumnya diizinkan) dia berangkat karena ada tetangganya cerita kalo sebelumnya Gunung Bromo sudah makan korban. Korban dilaporkan gak bisa diketemukan sampai saat ini. Dan korbannya itu hilang naik motor.
Nah, makanya Si Bunga tak dibolehkan berangkat kalo gak pake mobil.

"Jiaah, sejak kapan touring pake mobil?"
"Makanya itu kaan... You get the point kan sekarang? hehe"

Emang kalo perizinan kaya gitu ortu punya hak prerogatif.
Tak bisa diganggu gugat.
Di sini member dituntut harus punya lobbying skill yang mumpuni biar bisa dapet izin buat berangkat touring.

Sementara itu persiapan komunal meliputi indentitas komunitas dan juga perlengkapan bersama meliputi light stick.
Identitas komunitas bisa dilihat dari logonya.
Logo awal dapet masukan dari salah satu member senior yang jomblo, Mas Grandong.

Logo Awal

Logo "entup tawon" ini punya filosofi tersendiri:- sayap 36 merepresentasikan PWK yang berkode jurusan 36
- filosofi hidup komunitas dilambangkan dengan hewan tawon dipilih karena mereka hidup berkoloni dengan berlandaskan hidup gotong royong mbangun jembatan #eh
- gerigi teknik menunjukkan bahwa member komunitas ini adalah para montir dan teknisi bengkel (becanda)
- tulisan Observasi - Koordinasi - Eksekusi menggambarkan kegiatan sehari-hari planner

Logo itu udah dibuat sejak lama. Sejak zaman penjajahan.
Tapi karena anggotanya sibuk perang makanya disimpen terus dan baru sekarang diekspos ke media.
Begitu diekspos keluar, kawan-kawan merasa logo itu perlu disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Akhirnya oleh member yang masih berjiwa muda logo itu digubah.
Beginilah penampakan logo KTP setelah dilakukan penyesuaian di sana sini.
Logo Baru
Meski banyak yang berubah, namun filosofinya tak banyak yang beda:
- filosofi yang paling ketara adalah masih terdapat kode 36 dalam logo, yakni 3 pada bagian garis perut dan 6 pada garis di sebelah kanan roda teknik.


Untuk sementara segini dulu aja reportasenya.
Cerita pas di Bromonya aku tulis pada part 2 nanti.
Maklum foto-foto di TKP belum masuk ke meja redaksi.. hehe

Share

Minggu, 13 Mei 2012

AKHIR HAYAT PENGGEMAR MUSIK DAN PENCINTA AL QUR'AN (kisah nyata)

Saya ambil dari share seorang teman di facebook.
Tulisan ini adalah tulisan yang membuat saya meneteskan air mata dalam dua bulan terakhir.
Ahh, sungguh futur saya ini.. Dalam rentang dua bulan hati ini seakan mati rasa.
Tak menangis karena rindu Illahi dalam jangka waktu selama itu membuat batin terasa kaku.
Alhamdulillah, dengan membaca kisah ini bisa kembali tersadar.

Semoga kita tetap menjadi orang yang cerdas, yang selalu ingat dengan kematian :)



Kisah Nyata: AKHIR HAYAT PENGGEMAR MUSIK DAN PENCINTA AL QUR'AN
Saif Al Battar

Senin, 21 November 2011 16:58:12

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…
(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]...(foto:tyothebronew.bsc)
Share

Rindu yang dulu

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2.40 WIB.
Sudah terlalu larut bagiku untuk tidur. Takut tak sempat ikut jamaah shalat subuh di masjid fajar nanti.
So, aku usahakan untuk tak tidur sekalian pagi ini.
Yaah pengen ngerasain nikmatnya begadang lagi. Udah lama gak begadang rasanya rindu juga ya masa-masa kepepet garap proyek. hehe

"Hemm.. rupa-rupanya lagi banyak garapan nih?"
"Haha.. gak juga. Temen-temen ada yang butuh bantuan bikin peta buat skripsi, kasian kalo gak dibantuin :)"

"Okelah, walau lembur yang penting tetap semangat! :D"
"InshAllah... Dengan niat lillahi ta'ala, semuanya jadi terasa enteng dikerjakan :D"

Sip, yang penting udah ngepost lah.. hehe
Sekarang lanjut lagii garapnyaa.. :D




Share

Kamis, 03 Mei 2012

Malu

Kemarin adalah tanggal 1. Dan seperti biasa, aku didera penyakit yang luar biasa berat (in my case). Penyakit itu bernama MALU.
Di awal bulan selalu ada transferan uang. Jatah dari 'rumah'.
Setiap dapat kiriman dari ayah, bukan bahagia yang membuncah. Justru rasa malu yang aku rasakan.
Di usia yang produktif ini aku masih belum mampu 'mentas'.
Geregetan juga sering aku rasakan. Geregetan karena sampai sekarang masih belum bisa menghasilkan apa-apa. Belum bisa membanggakan ibu ayah.
Ingin melompat tinggi namun terkadang merasa seperti berada dalam tempurung.
Ingin bilang "Buk, yah.. mulai saat ini saya tidak perlu dikirimi lagi. Inshallah saya sudah bisa mandiri." Tapi rasa takut dan khawatir akan kekurangan lebih sering menyapa.
Kenyataan ini menyadarkanku bahwa aku masih belum siap memberi 'makan anak orang'. Lha wong untuk makan sehari-hari aja masih dijatah orang tua kok mau ngasih makan anak orang.
Ahh, sungguh dilematis.

Dilihat dari sisi positif.
Alhamdulillah..
Paling tidak untuk saat ini semangat berkarya dalam diri masih ada.
Kalau sekarang belum bisa, tak apa. Yang penting terus berusaha.
Nanti akan ada saatnya mereka akan bangga padaku.
Aku akan coba lebih fokus. Walaupun kata 'lebih' masih terkesan relatif, tapi aku akan upayakan yang terbaik.
Untuk saat ini, fokus adalah jawaban atas segala pertanyaan.
Bismillah.



Share

Senin, 30 April 2012

Fokus.. Fokus.. Fokus!

Alhamdulillah, pagi ini bisa bangun sebelum subuh. Sesuatu yang tak kulakukan selama sepekan terakhir. Bukan karena tak mau, tapi tak bisa. Yaah, karena ini dan itu yang bikin aku jadi susah melek pagi hari.

"Aah, alasan aja! Bilang aja kalo males bangun.."
"Ya gak gitu. Beneran.. Pengennya tu bangun subuh tiap hari. Siapa sih yang gak mau dapet energi positif seharian??"
"Energi positif apaan?"
"Loh, gak tau yaa. Orang yang bangun sebelum subuh itu dapet sesuatu yang gak didapet sama orang yang telat bangun. Salah satunya adalah energi positif. Orang yang bangun saat fajar itu dapet kekuatan atau dorongan yang bisa bikin semangat seharian. Gak percaya?? Makanya bangun pagi doong! =D"

Orang yang bangun saat fajar itu dapet kekuatan atau dorongan yang bisa bikin semangat seharian.

Nah, dialog itu adalah percakapan antara sisi baik dan sisi buruknya penulis. Yaa boleh dibilang angel vs demon lah. Tapi ini tak tampak. Hehe
Perang batin yang serunya tak kalah dari perang salib. Tapi teteep.. tak tampak =P
Hanya penulis dan Allah saja yang tau. Wuoo..

Balik lagi ke bangun pagi!
Emang sih, bangun pagi itu sesuatu yang susah susah gampang. Ini semua tentang kebiasaan aja. Dan kebiasaan itu bukan hal yang bisa dibentuk secara instan. Butuh proses meen!
Kesulitan mengubah kebiasaan itu kalo boleh dibilang emang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi ya tak sesulit memindahkan gunung. Jadi pada intinya kembali ke diri kita sendiri.
Kesulitan mengubah kebiasaan itu kalo boleh dibilang emang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi ya tak sesulit memindahkan gunung.
"Iyaa, tau. Trus, hubungannya sama judulnya yang fokus apaan?"

Iya ada laah. Sabar, pasti dibahas kok.
Karena muatan tulisan ini adalah hak prerogatif penulis, maka isinya boleh apa aja. Termasuk curhat.

"Kasiaan.. Ini pasti gara-gara gak punya orang yang bisa diajak curhat yaa. Makanya curhatnya di blog??"
"Gak laah.. Gue cuma pengen berbagi cerita ajaa di sini. Jadi gak ada hubungannya sama yang lain. Paham?!"
"Iya ah, bawel. Lanjutin sono ceritanya. Belum kelar juga.. Hemm"
"Shut up and take my punch! Kan situ yang mulai tadi. Huh gimana sih!"

Tuh kan gak fokus..
Emang ya, orang yang susah fokus itu bakal keliatan dengan jelas dari tulisannya.
Balik lagi ke curhat.. Jadi intinya aku pengen ngasih tau semua orang di dunia kalo kebiasaan bangun pagiku itu susah aku lakukan karena aku kurang fokus. Terlalu banyak hal yang dikerjakan setiap hari. Dan tiap hari minimal jam 12 malem baru selesai dikerjakan. Setelah itu ngerjain ini dan itu di kosan. Lalu baru tidur sekitar jam setengah 2. Begituu terus tiap hari selama sepekan terakhir. Makanya bangunnya telat terus. Subuhnya telat terus. Huhuuu.. Itu yang sebenernya bikin nyesek.

"Ahh alasan aja!"
"Loh, ini beneraan."
"Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan?? Masa sih.. Palingan juga karena tak tau apa yang harus dikerjakan makanya gak efisien waktunya.. Hemm"
"Glekk.. Yaa itu juga bener sih --' "

Gak tau karena fokusnya terlalu banyak atau malah gak punya fokus sama sekali, makanya waktu seharian yang 24 jam itu gak bisa dioptimalkan.
Dalam 24 jam temen-temenku udah banyak yang 'lari'. Sementara aku, selama ini masih merangkak. Bahkan ndlosor!
Mungkin emang bener kalo musuh besar golongan darah B salah satunya adalah fokus.
Kalo fokus itu diumpamakan sebagai sesosok manusia, mungkin dialah orang yang pengen aku taklukan saat ini.
Kalo fokus itu diumpamakan sebagai sesosok manusia, mungkin dialah orang yang pengen aku taklukan saat ini.

Yasuda lah, dicukupkan saja nulisnya.
Harus balik lagi ke dunia nyata nih..
Mengeset ulang fokus dan menyeting diafragma biar gambar yang dihasilkan bisa maksimal.

"Hemm.. Berfilosofi lagi nampaknya.."
"Iya dong biar gaya.. Biar dapet gengsi.. Gengsi kan mahal harganya.. Hehe"

Yah, pokoknya itulah ya..
Semoga tulisan yang berantakan ini punya value yang bisa dipetik =)



*Btw, sekarang mau nyoba nerapin cara nulisnya bang Ippho.
Sederhana tapi bermakna..
Berkah dan berlimpah..

Share

Minggu, 08 April 2012

Lagi-lagi, Naas

Malam ini, sekali lagi, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Dan sekali lagi aku mendapatkan pelajaran itu dari... KECELAKAAN MOTOR!
Mungkin untuk posting kali ini tak perlu aku tampilkan banyak tulisan.
Langsung saja aku pajang dokumentasi berupa fotonya.
Biarkan gambar yang berbicara. Karena a picture means a thousand words :)
Semoga menghibur. hehehe

Lecet :(
Lecet lagi si Meggie..
Terakhir kali jatuh di bunderan dolog, yang kena sebelah kiri.
Kali ini sisi kanan yang kena. huhuhu

Walau luka yang penting tetep cool :D


Awal-awal ga sadar kalo ada luka yang menganga... hemm
Beberapa jam setelahnya baru terasa ada yang aneh dengan body.
Bahu kanan atas terasa berat untuk digerakkan. Sekedar memasukkan kunci ke kantong jaket pun rada kesulitan. Ambil dompet di saku celana belakang juga begitu.
Jari tangan sebelah kanan perih.
And the worst part of all is my KNEE. Semacam ada lubang gede di sana. Mungkin kalo ada kutu berjumlah 10 ekor, mereka udah maen futsal di lubang itu. hahaha



Baru nyadar kalo parah :O
Rasanya tak separah keliatannya kok.
Cuman geli-geli gimanaa gitu =P
*Sampai ditulisnya posting ini (2 jam setelah kejadian), darah di dengkul terus mengucur... Oh!

=========================================================

Yah, itulah tadi hiburan dari saya hari ini.
Ada beberapa poin yang bisa kita ambil pelajaran:
  1. Kalo adzan berkumandang, segeralah dirikan shalat. Sore tadi ketika adzan maghrib disuarakan, aku malah kabur dari masjid buat ngembaliin motor temen. Jadi aku pikir kecelakaan ini ada hubungannya sama perbuatanku menunda shalat itu.
  2. Selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah. Mungkin ini cuma peringatan kecil untukku, karena akhir-akhir ini aku lebih sering memikirkan hal-hal duniawi. Kurang mensyukuri nikmat yang diberikan.
  3. Ibu. Tiba-tiba aku teringat sosok ibu. Kalo pas keadaan seperti ini beliau pasti ada di sampingku. Membersihkan luka dan memperbannya. Dengan sabar beliau men-damu (meniup-niup) luka menganga itu hingga terasa amat dingin dan menyejukkan. Oh, aku butuh ibu sekarang.. Atau paling tidak, aku butuh seseorang dengan sosok yang mirip beliau. :*
  4. Safety first. Deker, aku baru sadar kalo seorang kapten touring sangat membutuhkannya.
  5. Sedekah. Mungkin agak jauh nyambungnya, tapi aku percaya ini ada hubungannya.

Udah segini aja!

Share