Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Persiapan Menyambut Ramadhan

Sekarang sudah memasuki nisfu sya'ban (pertengahan bulan sya'ban), itu artinya tak lama lagi kita akan memasuki bulan ramadhan.
Tinggal menghitung hari.
Inshallah dua minggu lagi kita akan memasuki bulan yang penuh berkah.
Bulan yang suci.
Bulan di mana umat muslim berlomba-lomba mencari kebaikan sebanyak-banyaknya.
Bulan yang senantiasa kita nanti-nantikan sejak sebelas bulan yang lalu.
Semoga kita termasuk umat yang turut merindukan bulan ramadhan. Amin.

Dengan semakin mendekatnya ramadhan, apa yang perlu kita persiapkan?
Dari hasil mentoring perdana dengan Mas Adri, beliau menuturkan bahwa dibutuhkan 5 bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan puasa agar ibadah semakin powerfull.
5 hal tersebut adalah:
  1. fisik
  2. ruhani
  3. ilmu
  4. infak
  5. missing link
Persiapan fisik dilakukan dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap fit selama bulan ramadhan. Hal-hal yang perlu dilakukan diantaranya olahraga rutin setiap hari. Tidak perlu berat, stretching ringan sudah cukup.

Persiapan ruhani meliputi pembiasaan-pembiasaan yang dapat nelatih kita agar ibadah yang kita lakukan selama ramadhan bisa istiqomah. Diantaranya adalah dengan meningkatkan intensitas membaca Al-Quran selama bulan Sya'ban agar semangat yang kita pasang ketika ramadhan tidak menjadi semangat fajar (semangat ibadah hanya pada 7 hari pertama).

Ilmu atau wawasan tentang bulan ramadhan serta seluk beluknya penting untuk kita persiapkan guna menghindarkan kita dari kesia-siaan selama bulan ramadhan. Karena bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah, maka sudah seharusnya kita memanfaatkan momen ini untuk memetik faedah dan wawasan keagamaan sebanyak-banyaknya.

Mempersiapkan infak tidak melulu tentang seberapa jumlah uang (harta) yang perlu kita siapkan untuk membantu sesama. Tetapi lebih kepada bagaimana menggunakan harta yang dimiliki untuk menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya. Misalnya dengan uang beberapa ratus rupiah, kita tak perlu melu untuk menginfakkannya. Dengan membelikan air mineral dan membagikannya pada PPT (Para Pencari Takjil) di masjid-masjid, kita sudah mendapatkan banyak pahala, Inshallah.
Ingat sabda Rasulullah SAW,
“Barangsiapa memberi makan berbuka orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa dan pahala orang yang berpuasa itu tidak berkurang sedikit pun.” (HR Tirmidzi)

Ada satu lagi hal lagi yang perlu dipersiapkan oleh umat muslim menjelang datangnya bulan ramadhan. Namun sayang sekali saya lupa, karena pada saat Mas Adri sedang memberikan taujih, saya agak mengantuk. Jadi kurang konsentrasi. :P
Inshallah nanti kalo ingat akan segera saya tambahkan.



Share

Minggu, 13 Mei 2012

AKHIR HAYAT PENGGEMAR MUSIK DAN PENCINTA AL QUR'AN (kisah nyata)

Saya ambil dari share seorang teman di facebook.
Tulisan ini adalah tulisan yang membuat saya meneteskan air mata dalam dua bulan terakhir.
Ahh, sungguh futur saya ini.. Dalam rentang dua bulan hati ini seakan mati rasa.
Tak menangis karena rindu Illahi dalam jangka waktu selama itu membuat batin terasa kaku.
Alhamdulillah, dengan membaca kisah ini bisa kembali tersadar.

Semoga kita tetap menjadi orang yang cerdas, yang selalu ingat dengan kematian :)



Kisah Nyata: AKHIR HAYAT PENGGEMAR MUSIK DAN PENCINTA AL QUR'AN
Saif Al Battar

Senin, 21 November 2011 16:58:12

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…
(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]...(foto:tyothebronew.bsc)
Share

Minggu, 16 Oktober 2011

Buku Bagus buat Akhwat

Sudah 2 hari ini aku di Blitar. Aku pulang kampung dalam rangka membantu meringankan beban orang-orang di rumah. Yah maklum, di rumah lagi repot banget karena setelah Ibu mengalami kecelakaan kecil sebelum Ramadhan lalu, kini giliran adek yang ditimpa ujian dari Allah. Insha Allah ujian ini adalah suatu peringatan bagi kami sekeluarga agar lebih rajin bermuhasabah dan bertaubat kepada Allah atas segala luput yang telah kami perbuat.
Ok, cukup dengan pengantar dan basa-basinya. Now, back to topic!
Kali ini aku cuma pengen mem-publish beberapa tulisan yang sangat bagus buat akhwat. Tapi tak ada ruginya jika ihwan mengetahuinya juga. Sumber yang aku itu adalah salah satu buku M. Quraish Shihab yang berjudul: M. Quraish Shihab menjawab... 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui.
sumber: penerbitlenterahati.blogspot.com
Buku tersebut adalah milik kakak perempuanku. Menurutku, banyak hal di buku itu yang patut kita ketahui karena berkenaan dengan fenomena yang terjadi dalam keseharian kita. Dekat sekali, bahkan. Karena memang isi buku tersebut adalah hasil tanya jawab antara beberapa akhwat dengan Pak Quraish. Sehingga paling tidak, apa yang termaktub dalam buku ini mewakili problematika beberapa orang di antara kita.

Oya, aku rasa penting pula aku tuliskan salam pembuka dari Pak Quraish yang terpampang di cover belakang buku tersebut agar kita tahu batasan dalam memahami isinya.

Saudariku, Putriku.....
Kita semua mendambakan kecantikan. Tuhan pun indah dan menyukai keindahan.... Tapi.... ada pesan-Nya: Sertakan bersama kecantikan, tiga hal: kesederhanaan, kesucian, dan kehormatan....
Apa yang Anda baca di sini adalah bagian dari ketiga hal itu....Saya berusaha menghidangkan yang "termudah" dari aneka hidangan yang tersedia.... Mohon jangan dikurangi dan ditawar lagi....
TTD
M. Quraish Shihab
Semoga apa yang saya lakukan ini membawa faedah bagi kita semua. Amin.



Share

Batasan Berpacaran dalam Islam


sumber: penerbitlenterahati.blogspot.com

Berikut adalah hasil tanya jawab antara beberapa akhwat dengan M. Quraish Shihab, yang kemudian dirangkum dalam buku yang berjudul M. Quraish Shihab menjawab... 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui.
Apa yang aku tuliskan di sini tidak bermaksud untuk promosi, tapi lebih kepada niat berdakwah. Bukan berarti aku sok tahu ya! Hanya, kebetulan kakak perempuan aku punya bukunya, sehingga aku bisa membagikan beberapa hal yang aku anggap penting untuk kawan-kawan ketahui. Semoga bermanfaat.
So, let's check it out!!
*cerita dikit ahh

Tanya:
Saya seorang mahasiswi yang ingin hidup mandiri, oleh karena itu saya kos di daerah dekat universitas saya. Saya mempunyai pacar yang sudah 6 tahun berpacaran, namun ia terus berusaha untuk mencium saya dan saya pun selalu menolak karena saya paham dalam agama Islam tidak boleh perempuan dan laki-laki bersentuhan bila bukan mahramnya. Namun, ia mengancam memutuskan hubungan kami berdua kalau tidak boleh mencium, apa yang harus saya lakukan, Pak Ustadz?
Rani,
Mahasiswi,
Cirebon

Jawab:
Saran saya "Nasihati dia dan bersegeralah menikah! Kalau dia tetap bersikeras, maka putuskan hubungan Anda!!! Insya Allah Anda akan mendapatkan seorang yang jauh lebih baik bagi Anda." Jelas dia bukan seorang yang beragama dengan baik. Padahal prioritas pertama dalam memilih jodoh adalah keberagamaan (keber-agama-an, pen.). Jika Anda mengizinkan dia melakukan permintaannya itu, setan akan datang lagi menggodanya agar dia mengambil langkah berikutnya melebihi yang pertama, karena memang setan memiliki langkah-langkah yang pada akhirnya menjerumuskan mangsanya. Saya khawatir jika segalanya Anda telah beri, maka pada akhirnya "habis manis sepah dibuang."
Berpacaran dalam Islam tidak dilarang, tetapi dalam arti pertemuan dengan lawan jenis yang diupayakan untuk mengenalnya dalam batas-batas yang dibenarkan agama dengan tujuan menikahinya secara sah, bukan berarti berdua-duaan, apalagi cium-ciuman! Demikian, wa Allah A'lam.
Share